pano ketep1.jpg

Landscape Indonesia

DI Yogyakarta

Melewatkan Malam di Gunung Purba Nglanggeran

melewatkan malam di gunung purba Nglanggeran

Malam semakin larut, tak terlihat tanda tanda bintang di langit, tertutup awan gelap yang berarak. Rembulan pun terkadang muncul dan sesaat kemudian sudah kembali hilang tertelan mendung. Kami kurang beruntung bila memang niat kami hanya untuk mengabadikan malam berbintang. Tapi kami sudah cukup terbiasa dengan alam yang terkadang bersahabat dan sering juga enggan menampakan keindahnnya. Jadi kami pun mengalihkan skenario memotret malam berbintang menjadi memotret tenda dengan berlatar belakang lampu kota Jogjakarta. Bahkan salah seorang rekan kami mempunyai skenario yang lebih sederhana lagi.. pindah tidur dari kost nya ke lereng gunung purba Nglanggeran ini :D.

Ide dadakan (lagiiiii ?) yang kemudian disambut beberapa teman lama di Jogja untuk menghabiskan malam dengan berkemping ceria di salah satu spot pegunungan di Jogja. Sebenarnya sempat bikin woro woro juga di twitter maupun di facebook nya LI,tapi mungkin karena waktunya mendadak jadi tidak ada respon dari teman2 member LI yang ikutan bergabung. Berlima, Wawis, Joan, Santi, Fitria dan saya sekitar pukul 18.30 pun mulai berangkat menyusuri jalan wonosari menuju ke lokasi Gunung Purba Nglanggeran yang berada di Gunung Patuk, sekitar 25 km dari kota Jogja. Sekitar pukul 20.00 malam kami tiba di lokasi parkiran, setelah sebelumnya mampir di salah satu angkringan untuk mengisi perut. Untuk masuk ke lokasi Gunung Purba Nglanggeran kita harus membeli tiket masuk seharga Rp. 5.000/ orang. Kawasan Ekowisata Gunung Purba Nglanggeran memang sudah dikelola secara profesional oleh Karang Taruna "BUKIT PUTRA MANDIRI".

Setelah itu kami mulai melakukan perjalanan melewati jalan berundak. Nyala lampu headlamp menerangi jalan setapak, di beberapa tempat kami harus menaiki undak-undakan yang terbuat dari batang kayu yang disusun menjadi tangga. Di sejumlah titik juga mengharuskan kami menaiki batu yang memiliki kemiringan sekitar 50 derajat, untungnya sudah ada fasilitas tali yang bisa digunakan untuk naik ke atas. Setelah berjalan sekitar 20 menit kami harus melewati lorong yang cukup sempit. Joan yang membawa tenda diikat di belakang tas nya terpaksa menggunakan jalur naik melewati batu karang karena terlalu sempit. Jadi teringat di salah satu lokasi karang di film 127 hours deh :D

Selepas itu kami menjumpai daratan yang cukup lapang. Di depan kami berderet lampu kota Jogja dan beberapa menara pemancar menerangi malam. Langit berawan gelap dan angin bertiup cukup kencang sehingga lokasi ini kurang nyaman untuk mendirikan tenda. "Nanti di sebelah sana ada tempat cukup terlindung dan kita bisa mendirikan tenda di sana" ujar Joan sembari menunggu rekan lain untuk sekedar mengambil napas. Lumayan bikin berkeringat juga jalur naik sampai sini.

Setelah beristirahat secukupnya kami pun kembali menyusuri jalan menanjak hingga sampai ke lokasi datar yang cukup luas dengan bangunan mirip pendopo kecil. Angin bertiup tidak terlalu kencang karena lokasi ini cukup tertutup oleh rindangnya pepohonan. Yup ini lokasi yang cocok untuk bermalam. Segera tenda kuning pinjaman pun di dirikan, sementara wawis sibuk mencari ranting kayu mati yang tersebar di lokasi. Tak lama kemudian api unggun pun menyala menerangi dan menghangatkan suasana di sekitar.

api unggun sudah menyala

Kompor gas dinyalakan untuk memasak air, kopi putih sachet akan menemani kami tak lama kemudian. Sembari ngobrol tentang segala macam hal dan mengganjal perut dengan makanan ringan. Dinginnya malam tak terasa, kalah dengan perbicangan hangat di sela sela beberapa lagu syahdu yang mengiringi malam kami. Mendayu dayu diantara awan gelap yang bergerak cepat ditiup angin memenuhi langit.

menikmati pemadangan malam kota jogja

Malam semakin larut, bintang tetap tak nampak. Pupus sudah harapan untuk bisa mengabadikan star trail malam ini. Tapi kami tidak berkecil hati, karena bagaimanapun juga pemandangan malam walau tanpa bintang dari atas sini cukup menawan. Kelap kelip lampu kota di kejauhan, terkadang diselingi lintasan lampu mobil mengisi kaki langit di sebelah barat. Sayang menara pemancar yang menjulang terasa mengganggu keindahan alam.

yang mau bikin milo.. kok malah molor ?

Pagi hampir menjelang ketika terasa mata mulai berat.. saat nya tidur sejenak.. Fitria yang pagi nanti jam 10 ada janji meeting dengan salah satu rekanan kantor nya sudah dari tadi terlelap berbalut sarung. Padahal ucapnya tadi ketika kami masih asyik memotret malam "Saya bikinkan milo hangat ya.. " Tapi tak lama kemudian, yang ada air mendidih, yang mau bikin milo sudah terbaring nyenyak.. entah mungkin dalam tidurnya sedang bermimpi menghidangkan milo hangat untuk kami semua :p

bulan menjelang purnama di Nglanggeran

Kucoba menutup mata, sembari berucap syukur untuk malam yang menyenangkan bersama sahabat di alam terbuka.. diiringi temaram rembulan menjelang purnama.

Tak lama kemudian saya sudah berada di alam mimpi..

Dan lalu...
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang
rindu!
Bersamamu!

menikmati malam bersama kecerian sahabat di alam

Nglanggeran, 29 Agustus 2012

Add comment

Security code
Refresh

diskusi dasar fotografi landscape

diskusi peralatan fotografi landscape

Cartenz Adventure Store

cephoo.com - cetak photobook

tebarkan "racun" ini ke teman-teman anda :D

FacebookMySpaceTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksRedditTechnoratiLinkedinRSS FeedPinterest

ikuti update terbaru melalui

Update via Email

Dapatkan informasi terbaru seputar update website, event hunting dan traveling, ebook terbaru
GRATIS melalui email Anda

silakan masukan alamat email Anda :


*kerahasiaan data Anda akan terjaga dan hanya digunakan untuk informasi update

 

FREE-BOOK